Fenomena Piknik dan Predikat Kekinian

Generasi jaman now kadang emang ribet. Semakin hari semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Pengen ini, pengen itu. Kebutuhan bukannya malah semakin sederhana, tapi malah cenderung bertambah. Termasuk kebutuhan untuk menyegarkan pikiran alias piknik. Piknik di era sekarang ini identik dengan keharusan pergi ke suatu tempat yang "baru".

Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu,
Aku anak era 90an, dan yang namanya piknik itu se-sederhana ayah ngajak pergi ke bioskop atau sekedar jalan-jalan ke kebun binatang atau alun-alun kota. Dan sampai sekarang kenangan itu masih melekat. Meskipun engga ada kamera di jaman itu, jangankan kamera, handphone pun juga belum punya.
Kamera di jaman dahulu masih termasuk barang yang mewah, maka jangan tanya foto pikniknya, jelas lah orang jaman dahulu jarang punya foto bagus dikala piknik.

Meskipun tak diabadikan lewat foto, tapi masih tercapture dengan sempurna di otakku


Arti piknik dikala itu tidak sehebat dengan jaman sekarang ini.
Buatku pribadi, piknik ya hanya se-sederhana itu, tapi masih jelas dikenanganku, di waktu libur, pergi ke suatu tempat serta "berada" bersama orang-orang terkasih, itulah piknik yang hakiki.

Piknik/hits/trend explore suatu tempat??
Predikat piknik ala anak jaman sekarang sudah rancu dan tidak lagi sederhana. 

Kenapa?
Ketika piknik dahulu identik dengan hal yang "khusus" dan berharga, sekarang tidak lagi seperti itu.

Mari perjelas satu per satu..

Dahulu piknik jadi hal mewah, contohnya ketika aku sukses ranking 1 dikelas, dijanjikan ayah akan piknik ke suatu tempat. Mewah bukan?
Butuh perjuangan demi bisa piknik. Seingatku ayah pun dulu begitu, hanya bisa memberikan janji piknik ketika weekend, ketika semua anggota keluarga benar-benar luang waktunya.
Jadi, piknik itu moment yang sangat khusus dan benar-benar harus meluangkan waktu yang cukup.

Coba bandingkan dengan trend piknik jaman sekarang...
Piknik bukan lagi suatu moment yang benar-benar membahagiakan ketika pada akhirnya kita bisa melepas penat dan bosan.
Piknik bukan lagi hal yang mewah.
Semua orang punya fasilitas hidup dan piknik jadi hal yang mudah.
Semua punya media yang mendukung untuk mencari tempat piknik yang diidam-idamkan.
Ketika sukses mencapai beberapa target piknik, kita akan mendapat gelar "kekinian".

Jadi enggak heran, hampir setiap orang sengaja meluangkan waktu tertentu untuk piknik demi suatu predikat, yaitu tampak "kekinian".
Artinya, piknik telah sukses menjadi trend dimasa kini atau ke-kini-an

Setiap ada waktu kosong, piknik.
Setiap gak ada kerjaan, stalking tempat piknik yang hits.
Setiap ada tempat wisata baru, langsung buru-buru sempatkan untuk piknik.
Setiap orang, punya target tempat piknik.

Lama-lama jadi begini...
Setiap ada temen yang piknik, ngiri.
Setiap ada free time, yang terpikirkan pertama kali ya piknik.
Dan yang lebih ngeri, seseorang yang kurang piknik bisa jadi obyek sindiran.

Bagaimana?
Apakah kita masuk ke seorang dengan gelar kekinian berdasar ciri-ciri yang aku sebut diatas?

Sekarang mari bicarakan tentang piknik dan kekinian...
Dahulu rekomendasi tempat piknik sangat terbatas, selain karena media informasi yang masih cupu dan ala kadarnya, orang-orang generasi sebelum kita itu enggak ribet. Mereka cuek sama racun dunia, mereka enggak peduli mau kekinian kek, mau cupu kek, enggak masalah. Kalau bisa aku bilang, hidup di beberapa tahun yang lalu itu sederhana, tidak banyak persaingan gelar, dan belum begitu banyak pengaruh buruk yang lalu-lalang.
Makanya, pernah menjadi generasi sebelum sekarang itu menyenangkan.

Berbeda dengan generasi jaman sekarang (now) yang agak gatel. Gatel kalau jadi satu-satunya yang cupu, sementara yang lain udah hits. Gatel kalau lihat orang lain mentereng. Dan selalu gatel kalau liad tempat baru, lalu buru-buru luangkan waktu untuk segera bisa explore ke tempat itu.
*Maafkan ini hanya pengamatan satu mata, satu arah, tanpa pertimbangan macam-macam, benar-benar opini original dan pendapat pribadi

Sekali lagi aku ulangi, keberadaan suatu generasi di era sekarang, kita sebut saja dengan generasi "kekinian" telah menghancurkan reputasi berharga dari sebuah kata "piknik"
Betapa sakit hati ini ketika sebagian besar isi feeds di berbagai media sosial adalah seputar gaya hidup kekinian, termasuk didalamnya yaitu piknik.
Entah dari golongan laki atau perempuan, kaya atau ekonomi menengah, cantik atau pas-pasan, semua benar-benar pada porsi yang mantap ketika melangsungkan piknik.

Semakin menusuk hati, ketika mengetahui bahwa generasi kekinian itu diisi oleh para laki dan perempuan yang bahkan belum mandiri.
Masih mengandalkan uang jajan dari orangtua, tapi sudah berani mengikuti arus kekinian yang kurang berfaedah? Hanya mengikuti kehidupan yang berhiaskan jalan-jalan, kadang sampai melupakan kewajiban, senyum sana sini, ngomongin temen, curhat kurang berfaedah, dan tak lupa selfie dengan gaya hits. Apakah seperti itu kehidupan jaman now?

Coba lah seandainya kita memang berada dalam kondisi yang bodoh, tapi pikirkan satu hal saja yang sekira baik dan berguna. Tidak semua orang tua itu berada dalam kondisi yang "berada", tidak semuanya sehat, tidak semuanya bisa mengerti keadaan kita, tapi semua orangtua itu memikirkan anaknya. Dimana naluri kita ketika orang tua kita sedang sibuk bekerja, sedang mencuci baju dirumah, sedang berjualan, sedang berada disawah, sedang mengajar muridnya, dan pekerjaan lain, sementara kita cuma sibuk piknik dan explore tempat baru. Sejauh ini, coba pikirkan..

Apa sih yang melandasi kita hura-hura? apakah se-stress itu jadi harus piknik untuk menyegarkan pikiran? Ataukah pikiran se-penat itu sampai harus sering-sering refreshing?
Buat yang masih siswa, sekolah ala kadarnya, mikir juga secukupnya, penat-stress darimana? Ini yang aku enggak ngerti.
Kalau memang pusing karena belajar, atau pusing menjelang ujian, elu gak sendirian coy. Ada berjuta-juta pelajar di dunia ini dan tugasnya memang belajar. It doesn't make sense ketika stress karena belajar. Karena itu sudah menjadi tugas suci dalam hidup kita.

Lalu...
Sekalipun kita sudah mandiri, sudah punya uang sendiri, banyak waktu luang, apakah cuma itu yang bisa dilakukan?
Kenapa enggak kita sederhanakan saja. Mari buat segalanya positif, tidak ada yang tersakiti, tidak ada yang dirugikan, dan tidak ada yang berjuang sendirian #duh ini apa
Aku contohkan kehidupanku pribadi saja. Aku bekerja pada suatu bidang yang memerlukan keseriusan disetiap detiknya, memerlukan konsentrasi setiap saat, dan hal itu dilakukan setiap hari kecuali hari libur. Wajar kan jika (menurutku) disebut stress-penat, dan aku butuh piknik yang sebenarnya. Toh piknikku itu sederhana, ajak aku keliling kebun juga udah bahagia, liad pohon juga udah bisa jadi mood-booster. #becanda

Lalu tempat piknik "hits" jaman now..
Masyarakat sekarang memang semakin kreatif dan inovatif. Rasa-rasanya saja ditempat daerahku tinggal dulu gak ada tuh tempat wisata sebanyak ini, but what happen? sekarang ini masyarakat semakin cerdas, dan atas ide-ide kreatif tersebut mereka punya kesempatan untuk membangun berbagai jenis tempat hits yang pasti mengundang anak kekinian agar dateng kesana.
Jadi bisa aku simpulkan kalau "refreshing" atau "piknik" itu jadi kebutuhan yang dipaksakan. Sekedar pergi ke tempat itu, ambil foto hits, share ke medsos, lalu selesai. Foto-foto yang kita punya hanya koleksi saja, tidak ada kenangan melekat di dalam jiwa


*Sekali lagi ini hanya opini pribadi mengenai suatu fenomena yang sedang hits sekarang ini

Toh aku juga masih mengakui, masih ada sekumpulan generasi hebat yang bersih dan bebas dari trend kehidupan yang kurang berfaedah.
Masih ada juga generasi dengan banyak waktu luang dan merelakan waktunya untuk berjuang demi diri, keluarga, lingkungan, atau agamanya.
Aku masih percaya itu.

Semua bisa berubah. Semua pikiran harus berubah. Kalaupun itu susah, setidaknya selalu ada kesempatan.

Dan mari selamatkan diri dari perubahan yang kurang berfaedah. Sekian.
Fenomena Piknik dan Predikat Kekinian Fenomena Piknik dan Predikat Kekinian Reviewed by Dini Nh on December 28, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.