Stress Dengan Kondisi Tubuhmu? Inilah Fungsi Body Positivity

Menyikapi sesuatu, apalagi perihal kondisi tubuh, memang memerlukan pikiran yang sehat. Disinilah fungsinya body positivity, yang tidak bisa kita pisahkan dari bagaimana cara kita berpikir positif tentang segala apa yang ada dalam diri. Mulai dari kekurangan dan kelebihan, harus disikapi sebaik-baiknya. Di awal-awal mungkin kita mulai menyadari adanya kekurangan, that's good btw. Menjadi tidak mudah, ketika kita sudah menemukan kekurangan, lalu apa yang selanjutnya bisa dilakukan? Apakah langsung menerima? Membiarkan? atau Denial? It depends on our mind. Tapi yang terbaik memang menerima. Kalau kata Peter Cetera,
Part of me, I can't let go
*ketauan dah seleranya jaman old

Ngapain sih gak jelas banget ngomongin muka? Atau ngomongin bentuk badan yang kurus atau gemuk? 
Sebenernya bukan melulu soal performance kok, tapi satu hal yang aku garis bawah, yaitu tentang body positivity. Merupakan bagaimana cara kita memandang seluruh bagian tubuh kita. Sepele memang. Tapi dulu pernah sedikit belajar tentang psikologi, bahwa penerimaan yang buruk terhadap kondisi tubuh itu merupakan salah satu faktor pendukung rusaknya jiwa/pikiran kita. Pikiran yang kacau itulah nanti yang memunculkan tanda-tanda gangguan jiwa. Jadi yang salah bukan keburukan atau kekurangan dalam diri, tapi cara kita menyikapi kekurangan itu. Hope you guys know what i mean.
Ingat selalu ya, yang salah bukan kekurangan dalam diri kita, melainkan cara kita menyikapi kekurangan itu. 

Bagaimanapun kenyataannya, inilah yang kita miliki, inilah yang sudah ditakdirkan. Baik dan kurang baik juga sudah melekat dalam tubuh kita. Mau apa kalo seandainya kita tidak menerima? You know your own answers.

Kurang penerimaan diri inilah yang terkadang membuat beberapa orang banyak mengeluh, aku termasuk. Udah bagus banget lah punya kondisi tubuh yang sehat tanpa cacat, masih bisa beraktivitas dengan baik, masih bisa handle berbagai macam problematika dengan diberikan pikiran yang (lumayan) sehat. Tapi kadang kita sendiri sering cari-cari kelemahan diri, biasanya dalam bentuk kekurangan fisik, lalu resah dengan itu. Aku pun kadang masih seperti itu juga. Padahal kita bisa apa? baik dan buruk sudah jadi bagian dari diri kita, tidak bisa kita tinggalkan. Part of me, i can't let go. Makanya aku selalu seneng ketika masih ada orang yang apa adanya, menyikapi penampilan sewajarnya, menyadari kekurangan diri, dan menerima kekurangan dirinya sepenuh hati. Sederhana, tapi sulit memang. 

Kalau bicara body positivity seolah-olah sangat rumit. Padahal intinya sepele, yaitu tentang persepsi yang baik akan diri sendiri, tapi yang tersulit adalah merubah persepsi itu sendiri. Memerlukan waktu yang (mungkin) sangat lama hingga pada akhirnya kita bisa memandang tubuh kita dengan mindset yang benar.
Bahkan untuk hal yang sangat sepele pun kadang masih kita risaukan. Contohnya aku sendiri, ketika mukaku jerawatan atau ketika berat badan naik, pasti langsung bingung harus gimana, diobati apa, bahkan gak bisa tidur. Padahal jerawat juga gak bikin sakit hati, cuma aku belum bisa menerima kalau jerawat itu mengganggu penampilanku. Nah, yang mempersepsikan bahwa 'jerawat itu mengganggu penampilan' pada akhirnya aku sendiri kan? Sederhananya seperti itu. Merubah persepsi yang sangat kecil pun ternyata susahnya bukan main kan?

#Buset ya, bahasanya jadi berat dan gak aku bangeet. Bodo amat. Sekali - kali biar keliatan mikir 😋



Ditakdirkan dengan muka yang biasa-biasa aja, tampilan fisik yang gak istimewa juga, aku pun masih tetep bahagia. Merasa banyak yang kurang secara fisik, tapi yasudahlah, bisa apa. Kebetulan memang dari awal sudah menerima apa yang ada. Apalagi aku orangnya cuek dan gak begitu ribet sama penampilan, selama semua masih berjalan sesuai fungsinya dan gak ada masalah yang berarti, that's enough for me. Jadi persepsi terhadap diri pun juga cenderung mudah menerima dan mensyukuri dari hati yang terdalam. 

Sempat merasa sedih ketika sekarang ini eranya adalah physically-based. Semua orang lebih concern ke penampilan. Lebih buruk lagi sekarang ada istilah body shaming, dimana seseorang bisa dengan bebas menilai kondisi fisik seseorang. Apalagi sama beauty rules yang sekarang mungkin semakin gak karuan. Kalau dia wanita, seolah-olah harus punya image seperti barbie. Serba spotless, flawless, dan enak dilihat. *Emang tontonan? 

Lalu yang persepsi tentang dirinya masih buruk, masih memandang dirinya banyak kelemahan secara fisik, bisa banget keracunan jadi followers beauty rules yang ala-ala barbie itu. Kan sedih...
Kalau sekedar cantik, imut, gemes, flawless, tapi ternyata jalan pikirannya kacau, yaa percuma aja. Wanita itu tetep harus berprinsip dan punya mindset yang cerdas dong. *iningomongapa

Beauty rules bagi setiap orang memang berbeda. Dan kenyataannya, gak setiap orang menginginkan dirinya jadi flawless. Masih banyak kok yang bisa menerima diri apa adanya dan gak mempermasalahkan kelemahan yang ada. Contohnya si jerawat itu tadi. Disaat aku bingung gara-gara satu jerawat, diluar sana ada yang cuek-cuek aja dengan muka yang mungkin acne prone jadi banyak jerawat muncul, tapi mereka gak mempermasalahkan itu. Mereka enjoy saja dengan kondisi yang ada. Lagipula apa yang salah dengan orang yang berjerawat, toh kalau ditanya mereka pasti juga gak mau kan punya wajah yang acne prone? tapi mereka bisa menerima itu dengan sebaik-baiknya. 👌 

Kalau mau mengikuti kemauan diri, pasti gak ada habisnya. Malah yang ada kita jadi stress, seolah-olah harus mengikuti cantiknya pabrik. Makanya mulai sekarang yuk sama-sama ubah persepsi kita. Mari buat beauty rules, tapi yang sewajarnya. Misalnya nih, wanita gak harus flawless, jerawatan gak masalah, cantik itu gak harus make up, dll. At least dengan cara yang sederhana, kita bisa lebih menerima diri dan cara kita memandang orang lain pun gak semata-mata hanya fisiknya saja. Simple, tapi semua itu berawal dari apa yang kita pikirkan dan harus dibiasakan.

Bakalan panjang kalo ngomong soal beauty rules dan body positivity. Nah, untuk mengawali persepsi yang positif, paling tidak kita harus menyadari 1 saja potensi diri. Bisa kondisi fisik yang bikin kamu lebih percaya diri, hobi yang positif, atau skill yang dirasa bisa jadi kelebihan kita. Apapun itu. Contoh, ada seseorang yang sangat bersyukur dengan bakatnya, ada yang sangat menyukai warna kulitnya, ada yang merasa warna bola matanya sangat indah dan dia bangga dengan satu kelebihan itu, ada juga yang punya kecerdasan dalam hal tertentu, dan lain-lain. Temukan satu saja, dan jadikan kelebihan itu sebagai aspek positif dalam diri. 

Kalau sudah menemukan aspek positif, atau merasa ada hal yang bisa dibanggakan, at least itu akan membuat kita lebih maklum sama diri sendiri. Yuk coba temukan satu saja positive thing dalam diri kita, dan mulailah bersyukur bahwa setidaknya masih ada hal yang bisa dibanggakan. Got it? 

Nah buat aku pribadi, hal positif kayanya terpendam jauh dimana juga gak tau. Bahkan aku sendiri sering jadi objek body shaming yang menyebalkan itu. Padahal ya inilah God's creation, ketika ada penilaian yang cenderung negatif, gak salah lagi, berarti sama saja mencela Sang Pencipta-nya dong. Walaupun (kadang) memang merasa down, tapi yasudahlah, ngurusin mulut harimau gak pernah ada habisnya. 
Di saat-saat down  seperti itu, kita sangat butuh aspek positif diri, yang bisa kita jadikan tameng agar pikiran kita stay positive dan gak down terlalu lama.

Sejujurnya bingung bukan main kalo harus nemuin satu saja aspek positif dalam diri sendiri, rasanya gak ada sama sekali. Heuuu. Tapi selalu saja ada berjuta-juta kekurangan yang bisa dengan mudah kita temukan. Memang memandang diri sendiri dengan benar itu susahnya bukan main. Makanya, gak usah nyinyirin orang lain, urus diri sendiri dulu. *apasih

Nah kalo soal aspek positif secara fisik, kayanya memang jadi terkesan ke-PD-an kalo aku sebutkan. Hehehe. But for real, I'm super in love with the way i am. Mau gimanapun, aku gak ada keluhan yang mendalam soal fisik yang seperti ini keadannya. Meskipun muka biasa-biasa aja, postur tubuh ya begini ini adanya, kulit sawo matang, hidung gak mancung, gigi dari dulu memang gak rapi, tapi aku gak ada masalah dengan itu. Yang terpenting semua masih normal, masih berfungsi dengan baik dan gak ada masalah yang berarti. However, I do really love my own. 
Tapi favorite part ada sih, aku super bersyukur punya alis badai ala sinchan yang anti luntur ketika keujanan. Kalo yang lain sibuk kerokin alis dan digambar seheboh mungkin, aku bukan aliran gambar alis euy, karena alis udah lumayan ada bentuknya. Dan aku gak suka sesuatu yang artificial. Cause original has its best 💚  

Bukan ke-PD-an lho ya, diatas itu adalah contoh aspek positif yang coba aku uraikan. 

Nah sedikit pelajaran aja nih. Mulai sekarang kalau ketemu teman, kerabat, sahabat, atau siapapun please jangan tanyakan soal tampilan fisik mereka. Misalnya, kok sekarang kurus sih? Kok gendutan sih? Kok sekarang jadi jerawatan? dan berbagai pernyataan body shaming yang lain. Karena secara tidak langsung kita bisa memberikan persepsi yang negatif ke orang lain dan bisa berakibat fatal kalau seseorang tersebut memiliki persepsi yang buruk dalam dirinya. 
Bisa saja mungkin pertanyaan itu hanya sebuah basa-basi, tapi kalo si penerima mengartikan secara serius, akibatnya dia bisa puasa berhari-hari, stress, gak bisa tidur, bahkan lama-lama pikirannya bisa terganggu. Sakit kan? 

Coba ganti pernyataan yang menjurus ke body shaming itu dengan pertanyaan lain yang lebih membuat nyaman. Misalnya, tanya kabarnya, kondisi kesehatannya, atau kabar keluarganya. Asal jangan tanya kapan nikah ke para jomblo akut. Bisa fatal euy. wkwkwk.

Sekian dulu ya random talks kali ini. Thanks for being a good reader. Please kindly correct me if i'm wrong. Be positive and see you!
Stress Dengan Kondisi Tubuhmu? Inilah Fungsi Body Positivity Stress Dengan Kondisi Tubuhmu? Inilah Fungsi Body Positivity Reviewed by Dini Nh on May 17, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.